Hubungan Fear of Missing Out dan Kecanduan Media Sosial
Hubungan Fear of Missing Out dan Kecanduan Media
Sosial
Oleh
aiyupe
Media sosial menjadi
salah satu hal yang penting bagi setiap manusia, dari kalangan muda sampai tua
sekalipun. Bukan hanya untuk bersosialisasi dengan teman, melepaskan penat
dengan melihat berbagai konten yang ada, juga untuk berbisnis dan berbagi informasi
seputar hal-hal yang terjadi di dunia. Mengeksplorasi media sosial menjadi
kebiasaan yang dilakukan setiap orang, setiap waktu, dimanapun itu. Namun hal
ini dapat menjadi pemicu dalam meningkatkan fenomena Fear of Missing Out (FoMO) yang berdampak pada kecanduan media
sosial. Berdasarkan Fathadhika (2018), istilah FoMO pertama kali digunakan
pada tahun 2013 di dalam sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan oleh
Przybylski dkk. Przybylski dkk., (2013) mendefinisikan FoMO sebagai
kekhawatiran yang dialami individu ketika orang lain memiliki pengalaman yang
mengesankan di saat ketidakhadiran dirinya. Singkatnya, seseorang dapat merasa
tersisih apabila tidak memiliki atau merasakan apa yang dimiliki oleh orang
lain.
Bagaimana FoMO Dapat
Meningkatkan Intensitas Bermain Media Sosial?
Pada era ini, setiap
individu memiliki kemampuan untuk melihat pembaruan orang lain tentang
kehidupan mereka secara real time,
media sosial dan teknologi memungkinkan orang-orang untuk memiliki akses konten
apa yang mereka lewatkan. Hasil penelitian Przybylski dkk., (2013) menunjukkan bahwa FoMO berhubungan
negatif dengan suasana hati dan kepuasan hidup secara keseluruhan. Hal ini
menunjukkan peningkatan sosial negatif dan keadaan emosional seperti kebosanan
dan kesepian. Rasa kebosanan dan kesepian meningkatkan intensitas individu
untuk tetap bermain sosial media. Seperti yang dijelaskan Fathadhika (2018), individu yang mengalami FoMO
memiliki keinginan untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi di lingkungan.
Hal inilah yang mendorong individu untuk terus menerus mempertahankan aktivitas
di media sosial tanpa batasan waktu yang menimbulkan kecanduan pada media
sosial.
Bagaimana Hubungan
Kecanduan Media Sosial dan FoMO?
Kecanduan media
sosial sudah menjadi masalah yang mendapat perhatian banyak orang di masyarakat
dikarenakan zaman yang telah berubah melihat tingginya tingkat akses media
sosial. Berdasarkan hasil penelitian Zanah & Rahardjo (2020), dapat dilihat bahwa individu yang
merasakan FoMO memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam kecanduan pada media
sosial. Ini disebabkan karena intensitas bermain media sosial yang tinggi
seperti yang sudah dijelaskan. Hal ini sejalan dengan penelitian-peneletian
sebelumnya (Fathadhika, 2018; Przybylski dkk., 2013). Disamping itu, ada juga kasus dimana
FoMO muncul setelah terjadinya kecanduan media sosial. FoMO menjadi efek dari
kecanduan tersebut bukan sebaliknya. Jadi dapat disimpulkan bahwa keduanya
saling memengaruhi. Terus terhubung ke media sosial dan selalu dapat melihat
hal-hal yang Anda lewatkan dapat menyebabkan individu mulai mengalami perasaan
tidak puas, cemas (anxiety), dan
tidak berharga (Abel dkk., 2016).
Contoh yang paling
mendasar dari FoMO yang sering kita lihat yaitu saat ingin membeli sesuatu dari
produk dalam media sosial. FoMO sering kali dijadikan salah satu teknik
marketing karena perasaan dari individu yang mengalami FoMO dapat memengaruhi
keputusan pembelian. Seseorang dapat memilih untuk membeli produk yang lebih
baik atau lebih mahal daripada temannya karena mereka tidak ingin melewatkan
kemungkinan memiliki sesuatu yang lebih baik, merasa kurang puas dengan apa
yang dimiliki, dan merasa kehilangan kesempatan untuk menyesuaikan diri. Dalam
situasi ini, seseorang mungkin mengubah apa yang biasanya mereka lakukan atau
beli karena tekanan sosial dan ketakutan dikucilkan.
Berdasarkan Abel dkk., (2016), kecemasan (anxiety) merupakan faktor yang paling berhubungan dengan FoMO,
karena kemungkinan besar individu dengan anxiety
setelah melihat media sosial untuk sementara akan menjadi lebih cemas jika
tidak dapat melakukannya atau mencontoh apa yang ia lihat. Hal ini dapat
memunculkan depresi terhadap individu apabila tingkat kecemasan yang dialami
semakin tinggi.
Bagaimanakah Cara
Mengatasi FoMO?
Cara terbaik dalam
menjauhi FoMO yang diakibatkan oleh
media sosial adalah dengan mengurangi intensitas bermain media sosial secara
bertahap. Kita dapat menggantinya dengan melakukan hal yang lebih bermanfaat
atau menyibukkan diri dengan melakukan pekerjaan atau tugas yang dapat membuat
diri lupa sejenak akan media sosial. Meningkatkan kontrol terhadap diri saat
melihat berbagai konten-konten yang ada di media sosial. Membangun hubungan
dengan orang-orang di sekitar kita juga dapat menjadi solusi.
PENUTUP
Seiring laju
kehidupan online dan offline menjadi semakin terjalin, banyak orang-orang yang
diuntungkan akan hal ini. Seperti kesempatan untuk berinteraksi tanpa harus
bertemu satu sama lain. Namun FoMO menjadi salah satu contoh negatif yang dapat
sangat berdampak pada diri. Sebaiknya ketika sudah menyadari telah mengalami
hal ini, mulai secara perlahan membatasi aktivitas dalam media sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Abel,
J. P., Buff, C. L., & Burr, S. A. (2016). Social media and the fear of
missing out: Scale development and assessment. Journal of Business &
Economics Research (JBER), 14(1), 33–44.
Fathadhika, S. (2018). SOCIAL MEDIA ENGAGEMENT SEBAGAI
MEDIATOR ANTARA FEAR OF MISSING OUT DENGAN KECANDUAN MEDIA SOSIAL PADA REMAJA. Journal
of Psychological Science and Profession, 2(3), 208–215.
Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., &
Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear
of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.
Zanah, F. N., & Rahardjo, W. (2020). Peran kesepian dan
fear of missing out terhadap kecanduan media sosial: Analisis regresi pada
mahasiswa. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 9(2), 286–301.
Comments
Post a Comment